Senja di Asrama

Minggu, 10 Juli 2011
Tak ada hiruk pikuk kampus
Tak ada ocehan dosen
Dan tak ada pikiran tentang kampus

Hari ini  ibuku memasak rendang,
sesuai permintaanku

Raut mukanya kupandangi sejak tadi,

Bagaimana ya rasanya jadi orang tua?

yang anaknya jarang di rumah
yang anaknya sibuk dengan organisasi di luar rumah
yang anaknya dibutuhkan orang lain?

GIE..

Akhirnya semua akan tiba pada suatu hari yang biasa
Pada suatu ketika yang telah lama kita ketahui

Apakah kau masih selembut dahulu
Memintaku minum susu dan tidur yang lelap
Sambil membenarkan batang leher kemejaku

Kabut tipis pun turun pelan-pelan di lembah kasih
Lembah mandala wangi

Kau dan aku tegak berdiri
Melihat hutan-hutan yang menjadi suram
Meresapi belaian angin yang menjadi dingin

Apakah kau masih membelaiku semesra dahulu
Ketika kudekap kau dekaplah lebih mesra, lebih dekat

Apakah kau masih akan berkata kudengar detak jantungmu
kita begitu berbeda dalam semua, kecuali dalam CINTA

buka lembaran baru...

Minggu, 12 Juni 2011
Sudah lama laman ini tak terisi. Bukan karena saya kehabisan ide atau tidak pernah bersua komputer lagi, tapi karena masa labil itu sudah pergi. Dia sudah menemukan tambatan hati yang baru, dan aku sudah menaruh pilihanku pada gadis ceria itu.

Mungkin ke depannya laman ini akan diisi oleh kegiatan kuliah. 

Pergilah labil dan jangan kembali lagi.

untitled

Kamis, 05 Mei 2011
senang melihat kamu senang hari ini.
tapi maaf, kelemahan ku hanya satu.
aku tidak bisa berkata-kata di depanmu.
kau bagaikan sebuah bunga indah tiada duanya. perfect tapi rentan bila disentuh.
dan aku sudah salah mencoba memetikmu 'tuk ku bawa pulang.
kamu akan indah bila ditanam orang lain, bukan aku.
karena aku sudah punya tunas yang akan kusirami selamanya dan memetik buah darinya..

maaf untuk semua ini.

Minggu, 01 Mei 2011
Oke, untuk kesekian kalinya saya membicarakan dia.
Kali ini saya serasa ingin menjilat ludah sendiri.
Sungguh Allah punya maksut dibalik semua agendanya.
Manusia hanya berencana.

Kali ini juga saya tertawa dalam kebimbangan ini.
Ternyata ia juga mampu bangkit dari keterpurukan.
Saya teringat beberapa minggu lalu, saat ia menelpon dan menumpahkan air matanya.
Bukan terisak-isak lagi, tapi menangis sepuas-puasnya.
Juga saat di rumah. Menangis di pelukan dengan sekencang-kencangnya.
Lalu..
Aku berlagak seperti orang kuat yang meningggalkannya dalam keadaan bimbang dan tak ada jawaban pasti.

Lalu si Utama datang mengisi harinya.
Jauh dari yang saya duga ternyata.
Mereka terlihat lebih klop.
Mungkin lebih dari apa yang aku bisa lakukan dulu.

Hingga akhirnya kisah mereka seperti akan berakhir indah.

Dan aku seperti pengecut di sini.

Lalu bagaimana dengan si Bunga?

Ia supel, cerdas, ceria, dan ramah.
Ia bisa dikatakan teman yang tak pernah cemberut.
Hari-harinya penuh canda tawa.

Lalu saya datang dan mengusik aktivitasnya.
Memaksa ini itu.
tapi ia tetap menganggap saya teman baiknya.

Sampai akhirnya kata-kata manis itu terlontar.
Dan saya merasakan ini semua.
Sama persis seperti 2 tahun yang lalu,,